Senin, 10 Januari 2011

KAJIAN PROSA FIKSI

REPRESENTASI FENOMENA PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI INDONESIA DALAM CERPEN LAILA: TARIAN PENGORBANAN KARYA ZEVENTINA OCTAVIANI

Fenomena pekerja seks komersial di Indonesia telah banyak diangkat penulis menjadi tema dalam karyanya. Fenomena yang banyak terjadi disekitar kita ini memang sangat menarik untuk dipresentasikan menjadi sebuah karya tulisan dalam hal ini berupa cerpen ataupun novel, karena inilah banyak sekali karya-karya tulisan (novel atau cerpen) yang mengangkat tema seragam mengenai fenomena pekerja seks komersial yang merupakan krisis moral di Negara kita. Suatu karya sastra juga tidak dapat terlepas dari keadaan sosial, maka dari itu suatu karya sastra juga tidak terlepas dari sosiologi sastra yang berasal dari sosiologi masyarakat di sekitar kita. Oleh Karena itu, suatu karya sastra dapat dikatakan sebuah cerminan dalam masyarakat atau potret kehidupan nyata yang tergambar dalam masyarakat di sekitar kita.
Indonesia memiliki banyak permasalahan-permasalahan sosial seiring dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara berkembang. Permasalahan-permasalahan itu seperti pengangguran, kemiskinan, tingkat kriminalitas yang tinggi, pendidikan, kesehatan, krisis moral dan masih banyak lagi.
Krisis moral seperti merajalelanya para pekerja seks komersial, bukan lagi merupakan hal yang tabu di Indonesia karena ini bukanlah permasalahan yang baru yang ditemukan namun merupakan fenomena yang sudah tidak asing yang terjadi disekitar kita dengan atau tanpa disadari. Maka dari itu permasalahan ini menjadi fotret kehidupan social yang benar-benar nyata yang banyak terjadi yang kemudian seharusnya menjadi renungan kita mengapa hal ini dapat terjadi dan apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengatasinya sebagai bentuk kepedulian terhadap Negara kita tercinta.
Kajian Sosiologi Sastra (sebagaian kajian yang digunakan untuk mengkaji cerpen “Tarian Pengorbanan” karya Laila).
Secara bahasa, Ratna Nyoman K. (2003:1) menguraikan istilah sosiologi sastra sebagai berikut.
”Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio (Yunani) (socius ber¬arti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan makna, sosio/socius ber¬arti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi ber¬arti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keselu-ruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyara¬kat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik.”
 Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56). Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.
 Istilah "sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178).
 Sekalipun teori sosiologis sastra sudah diketengahkan orang sejak sebelum Masehi, dalam disiplin ilmu sastra, teori sosiologi sastra merupakan suatu bidang ilmu yang tergolong masih cukup muda (Damono, 1977:3) berkaitan dengan kemantapan dan kemapanan teori ini dalam mengembangkan alat-alat analisis sastra yang relatif masih lahil dibandingkan dengan teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.
Sosiologi sastra merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Paradigma sosiologi sastra berakar dari latar belakang historis dua gejala, yaitu masyarakat dan sastra: karya sastra ada dalam masyarakat, dengan kata lain, tidak ada karya sastra tanpa masyarakat.
Sosiologi sastra bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Welek dan Weren (1993: 111) mengklasifikasi sosiologi sastra menjadi tiga bagian:
1) sosiologi pengarang yang mempermasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra;
2) sosiologi karya sastra yang mengetengahkan permasalahan karya sastra itu sendiri, yang menjadi pokok permasalahannya adalah apa yang tersifat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya;
3) sosiologi yang mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra.
Ian Watt menjelaskan hubungan timbal balik sastrawan, sastra dan masyarakat sebagai berikut:
1. Konteks sosial pengarang yang berhubungan antara posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dengan masyarakat pembaca. Termasuk faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan selain mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti, yang berkaitan dengan:
a) Bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari pengayoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya,
b) Profesionalisme dalam kepengaranganya, dan
c) Masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.
2. Sastra sebagai cermin masyarakat, yang dapat dipahami untuk mengetahui sampai sejauh mana karya sastra dapat mencerminkan keadan masyarakat ketika karya sastra itu ditulis, sejauh mana gambaran pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat atau fakta sosial yang ingin disampaikan, dan sejauh mana karya sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat. Yang harus diperhatikan dalam klasifikasi karya sastra sebagai cermin masyarakat adalah:
a) Sastra mungkin tidak dapat dikatakan cermin masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis,
b) Sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya,
c) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat,
d) Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya sebagai cermin masyarakat. Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan sebagai bahan untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai masyarakat.
3. Fungsi sosial sastra, untuk mengetahui sampai berapa jauh karya sastra berfungsi sebagai perombak, sejauh mana karya sastra berhasil sebagai penghibur dan sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial (Damono, 2004:3). Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan:
1) Sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak,
2) Sastra sebagai penghibur saja, dan
3) Sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.
 Pada dasarnya, seluruh kejadian dalam karya, bahkan juga karya-karya yang termasuk ke dalam genre yang paling absurd pun merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. (Nyoman Kutha Ratna, 2009:35). Hal inilah yang menjadikan sebuah karya (cerpen atau novel) sebagai media penggambaran kehidupan cerminan masyarakat sosial yang terjadi di sekitar kita.
 Berdasarkan pembahasan di atas, maka cerpen “Laila: Tarian Pengorbanan” kiranya tepat untuk diangkat dan dikaji menggunakan kajian sosiologi sastra karena isinya yang merupakan potret kehidupan nyata dan gambaran fenomena yang banyak terjadi di masyarakat kita sebagai masalah sosial.

Cerita Pendek

Laila: Tarian Pengorbanan
Karya: Zeventina Octaviani
Dua ”bodyguard” mengantarku, satu bertugas merangkap supir. Badan mereka besar-besar. Dari ototnya terlihat bahwa mereka adalah orang-orang terlatih untuk menjagaku. Mereka mengantarku ke sebuah hotel mewah berbintang 5.
“Kamar 462. Doakan aku selamat, ya…,” bisikku lirih. Salah satu dari bodyguard itu menatapku. Sorot matanya sulit kumengerti. Aku tak tahu apa yang ada di dalam hatinya, tetapi di balik wajah garangnya, kulihat kedamaian.
”Hati-hati,” katanya singkat saat melepasku. Pistol tersembunyi di balik celananya yang tertutup kantong besar. Aku tersenyum padanya sebelum berlalu. Rahadian.
Di lift, kulihat bayang diriku. Tubuhku tirus terbalut rok mini dan atasan hitam menerawang. Tubuh yang jiwanya seperti keluar dari jiwaku. Entah jiwa milik siapa, sulit kukenali lagi.
Hari ini di kamar 462, aku akan menari, membawakan tarian yang berjudul tarian pengorbanan.
***
Di Indramayu, setelah ibu sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya mengeluarkan bau-bauan tak sedap, aku sering mencari tikus untuk ditukar sejumlah uang. Aku sudah berusaha melamar untuk bekerja ke sana-ke mari, namun begitu sulitnya dengan ijazah SMA yang kumiliki.
Karena banyak sekali tikus liar, maka pemda setempat memberikan sejumlah uang untuk setiap tikus yang terbunuh. Aku bisa mengumpulkan uang untuk pengobatan ibu.
Teman sebayaku banyak yang menjajakan tubuh ke para lelaki hidung belang. Mereka bergerombol berdiri di pinggiran jalan setiap malam tiba. Dalam sekejap mereka mendapatkan uang cukup banyak. Aku tak tertarik. Aku memilih berburu tikus, lebih halal daripada menjajakan tubuh.
”Apa pun yang terjadi, berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat daripada kaya raya tetapi harus menjual diri.”
”Aku berjanji, Bu.”
Kini, aku terpaksa harus mengingkari janjiku. Walau seluruh manusia di muka bumi ini mengutuk pun aku rela. Angina Pectoris yang di derita ibu, di tambah Herpes Simplex Virus yang menyebabkan bisul bau dan bernanah di sekujur wajah ibu, membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Aku ingin ibu sembuh.
***
Lelaki yang akan meniduriku kali ini adalah seorang bos dari Jepang. Perawakannya pendek dengan perut tambun. Dia menyuruhku mandi. Setelah mandi, aku mulai menari. Menarikan tarian yang sengaja kuciptakan untuk membuatnya ketagihan. Tarian yang melibatkan seluruh panca indraku bekerja. Tarian penuh gelora.
Terkadang, tangan kasarnya memperlakukanku tidak senonoh. Mencakar kulitku hingga terasa pedih, namun semakin pedih, bayang wajah ibu semakin tergambar jelas. Semakin pedih terasa, kecintaanku pada ibu semakin kuat.
***
Bapak kandungku adalah seorang bupati. Dia yang seharusnya bertanggung jawab, malah lari bersama wanita simpanannya, membawa semua harta yang kami miliki. Dia hanya menyisakan rumah saja, yang telah lama kami jual. Kini kami menempati rumah kontrakan yang kecil dan kumuh.
Bapak menceraikan ibu di saat ibu butuh dukungan atas sakit yang dideritanya. Bapak memanipulasi harta gono gini bersama pengacara sahabatnya. Permainan kotor yang menyakitkan hatiku.
Luka yang diderita ibu begitu sempurna. Jiwa dan raga. Aku marah pada Mbak Ning yang menghalangiku menusuk bapak dengan pisau.
”Biarkan bapak gila, kita tak usah terbawa gila.” kata Mbak Ning. Aku menangis di pelukannya.
***
Dari hasil melacur, rupiah demi rupiah kubayarkan ke rumah sakit. Dengan perasaan bahagia membayangkan ibu akan segera sembuh, kutengok tidurnya yang pulas. Wajah ibu mulai cerah. Bisul dan nanah di sekujur tubuhnya sedikit berkurang.
Mbak Ning tengah bersenandung ketika aku datang. Dia begitu telaten merawat ibu. Namun begitu melihatku, raut wajahnya berubah.
”Jangan dekati ibu!” bisiknya ketus. Hatiku tergetar. Tak biasanya Mbak Ning bersikap demikian kasar padaku.
Tak ingin ibu paham apa yang terjadi, aku keluar diikuti Mbak Ning. Di kursi ruang tunggu, kami duduk berhadapan.
”Jika kau masih mau kuanggap sebagai adikku, berhentilah melacur!” katanya tegas. Aku menciut. Tak mengira Mbak Ning akan tahu. Kepadanya, aku berbohong mengatakan aku kerja di bank.
”Tuhan akan membuka jalan dari setiap kesukaran. Tak perlu melacur pun, Mbak yakin ibu bisa sembuh!” katanya. ”Mbak akan meminta keringanan rumah sakit dan mencoba menghubungi mantan relasi bapak. Mbak yakin rekanan bapak yang dahulu sering minta tolong mau membantu.”
Aku tersenyum sinis. Aku telah lakukan itu. Tak seorang pun dari rekanan-rekanan bapak yang mau membantu. Bahkan mereka melecehkan dan menghinaku.
”Percuma Mbak. Aku sudah mencoba, tapi mereka balik menghinaku.” Mbak Ning menggeleng. ”Tetap akan kucoba. Tolong jaga ibu dan berjanjilah padaku untuk berhenti melacur!”
Aku mengangguk. Mbak Ning menghampiriku lalu memelukku. Dengan ketegaran luar biasa, Mbak Ning meninggalkanku. Dalam hati aku berjanji untuk berhenti melacur.
***
Dua hari sudah, Mbak Ning menghilang. Dua hari itu pula, aku tak beranjak dari rumah sakit menemani ibu. Suster mulai bicara tentang rupiah yang harus kubayar untuk menebus obat ibu. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan untuk mengulur waktu.
Malamnya, saat ibu tertidur pulas dan aku tengah duduk di luar menatap bulan, seseorang menghampiriku. Dari kelibas bayangnya, cara dia melangkah sampai detail gerak-geriknya, aku hafal.
”Apa kabar?” sapanya kaku. Walau lama berteman, kami jarang bicara.
”Baik.” Jawabku.
”Kapan kamu akan kembali?”
”Aku tak akan kembali.”
”Mengapa?” Jawabnya dingin.
”Dilarang mbakku. Dia tak setuju aku melacur.”
Lalu sunyi.
Dia menatap langit. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan raksasa. Sampai pagi, dia tetap berdiri mematung. Menungguiku yang duduk bertopang dagu di bangku.
Pagi hari, saat suster datang dan mulai bicara masalah keuangan, kudengar kabar itu. Paimin, tetanggaku yang berjualan bakso di samping rumah, menyeruak masuk dengan napas tersengal.
”Mbakmu di PGD, cah ayu. PGD sini.”
”Eh, kenapa? Ada apa dengan mbakku?”
Paimin berlari, aku mengikuti. Di PGD kulihat Mbak Ning. Ususnya terburai keluar. Seprai rumah sakit yang berwarna putih berubah merah pekat. Aku menggigil. Tanganku gemetar sulit digerakkan.
”Dia menjual organ tubuhnya secara ilegal. Saat kutemukan, kondisinya sudah parah. Tak tertolong lagi.”
”Tak tertolong? Tidak!!!” Bagaimana bisa mbakku yang sangat tegar dan tenang bisa pergi dengan cara begitu?
”Dia menitipkan ini padamu. Kutemukan di samping jasadnya.” Paimin menyerahkan sebuah amplop coklat berisi segepok uang seratus ribuan, dengan sepucuk surat. Sulit sekali membuka surat dengan tangan gemetar.
”Adikku sayang, kujual organ tubuhku demi ibu. Semoga uang ini cukup sampai ibu sembuh. Pesan terakhirku, apa pun terjadi, janganlah melacur, bekerjalah yang halal, walau untuk itu kau harus kehilangan nyawamu.”
Mbakmu, Ning.
Dunia terasa gelap. Tubuhku lunglai. Tulang kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh di pelukan Rahadian….
***
Mbak Ning kini hanya tinggal nama. Namun keharumannya terpatri di hatiku. Aku bersumpah tak akan melacur lagi. Walau Mbak Ning sudah pergi, aku akan tepati janjiku.
Setelah pemakaman Mbak Ning, kondisi ibu turun drastis. Ibu tak mau makan. Dalam tidurnya dia selalu menyebut nama Mbak Ning. Tak pernah sedetik pun kutinggalkan ibuku. Aku menjaganya siang malam.
Rahadian, entah kenapa, jadi sering menemaniku di rumah sakit. Dia terkadang membantu mencucikan baju kotorku dan baju milik ibu.
Suatu malam, ibu memanggilku. Aku duduk di samping tempat tidurnya.
”Nak, kembalilah bekerja. Biarlah Ibu dijaga suster. Ibu tak mau melihatmu pucat pasi begini. Ayolah, kau lanjutkan hidupmu.”
”Tidak, Bu. Aku akan tetap di sini menemani Ibu sampai sembuh.”
”Jangan hancurkan masa depanmu, Nak. Bagaimana kalau kau dipecat dari kantor gara-gara sering alpa? Tinggalkanlah Ibu, kau butuh istirahat juga.”
Aku mengangguk. Ibu begitu baik. Dengan berat, kuturuti permintaan ibu.
Hari itu, untuk pertama kali setelah sekian lama, kujenguk rumahku. Aneh rasanya tidur tanpa Mbak Ning dan ibu.
Paginya, aku bergegas ke rumah sakit. Aku ingin memastikan ibu baik-baik saja. Sejak semalam perasaanku tak enak. Selalu kepikiran ibu. Ketika sampai di kamar ibu, kulihat ada police line. Begitu banyak orang berkumpul. Bergegas kudekati kerumunan itu.
Ternyata firasatku menjadi kenyataan. Ibu yang kukasihi bunuh diri dengan selendang biru. Selendang laknat itu diikat ibu ke besi di atas tempat tidurnya. Mata ibu melotot dengan lidah terjulur kaku.
Dengan perasaan hancur, kuusap air yang menganak sungai di mataku. Hatiku sakit sesakit neraka.
Kuambil selendang biru yang dipegang polisi itu. Kucaci maki suster, dokter, dan semua satpam rumah sakit yang tak bisa menjaga ibuku dengan baik. Kupukul dan kutendangi tembok rumah sakit dan semua orang yang berkerumun di sana. Berharap mereka bisa merasakan sakit yang kurasa.
Duniaku gelap dan suram. Air mataku kering sudah. Aku benar-benar ingin menyusul mereka ke surga.
***
Berbulan-bulan sesudah kematian ibu, di rumah hanya ada aku. Kadang aku tertawa sendiri. Menertawakan nasibku yang edan.
Kuingat lagi kenangan hidupku bersama ibu dan Mbak Ning. Dulu kami sangat bahagia. Kurunut lagi di mana letak kesalahan itu. Bapak. Ambisinya akan kehormatan, uang, dan wanitalah penyebab semua ini. Aku mengutuk bapak. Gara-gara bapak aku terjerumus ke lembah hitam. Andai sekarang bapak datang padaku, memohon ampun sekalipun, aku tak sudi memaafkannya. Harga kehilanganku pada ibu dan Mbak Ning terlalu mahal untuk ditukar kata maaf.
Tadinya, aku berniat mengikat leherku dengan selendang atau kawat berduri. Atau aku ingin dilindas traktor berisi beban jutaan kilo. Namun setiap kali datang keinginan itu, suara Tuhan melintas.
Aku adalah pelacur. Namun di saat-saat kritis itu, toh aku masih mengingat nama-Nya. Dalam sedih, aku berdialog dengannya. Kadang, aku menangis menceritakan nasibku pada-Nya. Aku memang pelacur tak tahu malu, karena masih mengingat Tuhanku.
Dalam saat terberatku, Rahadian rajin merawatku. Dia menjadi dekat denganku. Hampir setiap hari, dia jambangi rumahku. Mengajakku ngobrol, menyiapkan makanan untukku, menyiapkan air panas untuk mandiku. Sampai akhirnya, kuserahkan diriku bulat-bulat padanya dengan kerelaan. Berbeda dengan saat aku menjadi pelacur. Kepadanya, kuberikan kehangatan dan cinta, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kuberikan pada lelaki mana pun di dunia ini.
Karena aku sudah sebatang kara, saat dia melamar, kuterima pinangannya. Kami pun menikah secara sederhana.
***
Setahun setelah pernikahan itu, anakku lahir. Kami menyambutnya dengan sukacita. Ibu Rahadian dari Kalimantan datang. Melihat cucu pertamanya, kebahagiaan terpancar jelas dari sinar matanya.
Bayiku yang lucu digendongnya. Lalu dari tas yang dibawanya dari Kalimantan, dia mengeluarkan selendang biru. Coraknya sama dengan corak selendang biru yang dipakai ibu gantung diri! Sama persis!
******
17 Oktober 2010
Sumber:
www.kompas.com
Potret Kehidupan Nyata Para Pekerja Seks Komersial di Indonesia dalam Novel Laila: Tarian Pengorbanan karya Zeventina Octaviani
 Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang gadis bernama Laila. Laila merupakan salah satu gadis yang menjadi wanita penghibur atau Pekerja Seks Komersial karena suatu keadaan yang memaksanya. Keadaan ekonominya yang sulit setelah ditinggalkan bapaknya, ditambah dengan keadaan ibunya yang sakit-sakitan, memaksanya untuk terjerumus ke dalam dunia hitam yaitu menjadi seorang Pekerja Seks Komersial, hal ini karena dengan cara inilah ia dapatkan uang banyak dengan cepat untuk mengatasi masalah yang ia alami, terlebih kecintaannya terhadap sang ibu yang sakit-sakitan. Angina Pectoris yang di derita ibu, di tambah Herpes Simplex Virus yang menyebabkan bisul bau dan bernanah di sekujur wajah ibu, membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Laila sangat ingin ibunya sembuh.
Dari hasil melacur, rupiah demi rupiah kubayarkan ke rumah sakit. Dengan perasaan bahagia membayangkan ibu akan segera sembuh, kutengok tidurnya yang pulas. Wajah ibu mulai cerah. Bisul dan nanah di sekujur tubuhnya sedikit berkurang.
Terkadang, tangan kasarnya memperlakukanku tidak senonoh. Mencakar kulitku hingga terasa pedih, namun semakin pedih, bayang wajah ibu semakin tergambar jelas. Semakin pedih terasa, kecintaanku pada ibu semakin kuat.
Kondisi yang dialami Laila ini sangat nyata terjadi di Negara kita Indonesia. Laila hanya satu contoh saja dari banyak “Laila-Laila” lain yang bernasib sama. Desakan ekonomi, dan sulitnya mencari pekerjaan karena lapangan pekerjaan yang terbatas atau tingkat pendidikan yang terbatas menjadi faktor utama munculnya banyak “Laila” di Negara kita yang tidak patut dipersalahkan karena hal ini bukanlah kemauaan mereka namun waktu dan keadaanlah yang memaksa mereka-mereka ini melakukan hal tersebut.
Di Indramayu, setelah ibu sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya mengeluarkan bau-bauan tak sedap, aku sering mencari tikus untuk ditukar sejumlah uang. Aku sudah berusaha melamar untuk bekerja ke sana-ke mari, namun begitu sulitnya dengan ijazah SMA yang kumiliki.
 Selain itu, Laila adalah sosok seorang anak yang sangat cinta dan penurut kepada ibu dan kakak perempuannya. Hal ini terbukti ketika Laila belum terjerumus ke dalam kehidupan yang kelam, ia berjanji pada ibunya untuk tidak menjual diri appun yang terjadi. Sekalipun ia mengingkarinya, ini karena rasa cintanya kepada wanita yang melahirkannya. Ia menginginkan ibunya sembuh dan bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial untuk mengumpulkan dana demi pengobatan sang ibu. Laila pun berjanji kepada kakaknya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yaitu bergelut dengan pekerjaannya yang hina.
Kecintaan Laila pada ibunya:
”Apa pun yang terjadi, berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat daripada kaya raya tetapi harus menjual diri.”
”Aku berjanji, Bu.”
Kini, aku terpaksa harus mengingkari janjiku. Walau seluruh manusia di muka bumi ini mengutuk pun aku rela. Angina Pectoris yang di derita ibu, di tambah Herpes Simplex Virus yang menyebabkan bisul bau dan bernanah di sekujur wajah ibu, membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Aku ingin ibu sembuh.
Kecintaan Laila pada kakaknya:
Aku mengangguk. Mbak Ning menghampiriku lalu memelukku. Dengan ketegaran luar biasa, Mbak Ning meninggalkanku. Dalam hati aku berjanji untuk berhenti melacur.
Mbak Ning kini hanya tinggal nama. Namun keharumannya terpatri di hatiku. Aku bersumpah tak akan melacur lagi. Walau Mbak Ning sudah pergi, aku akan tepati janjiku
 Sebenrnya Laila, ibu dan kakaknya adalah orang yang menjungjung harga diri yang tinggi. Merek atidak mau menjatuhkan harga dirinya. Hal ini terbukti dengan Ibu laila dan kakaknya yang melarang Laila melacur karena melacur adalah perbuatan terkutuk yang dapat menjatuhkan harg adiri seorang manusia. Begiupun Laila,jika tidak kaen akeadaan yang terdsak ia mungin tidak akan ikut-ikutan teman sebayanya mencari uang dengan cara yang tidak halal seperti melacur.
. ”Apa pun yang terjadi, berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat daripada kaya raya tetapi harus menjual diri.”

Namun, setegar apapun Laila ia hanyalah manusia biasa yang terkadang putus asa dan merasa bersedih dengan berbagai cobaan yang menyedihkan yang dihadapinya. Laila mencoba menyalahkan semua yang ada disekitanya atas kematian ibunya selain itu , setelah mengetahui orang yang ia cintai meninggal satu persatu ia inginkan juga untuk menyusul mereka. Laila berniat untuk bunuh diri.
Kuambil selendang biru yang dipegang polisi itu. Kucaci maki suster, dokter, dan semua satpam rumah sakit yang tak bisa menjaga ibuku dengan baik. Kupukul dan kutendangi tembok rumah sakit dan semua orang yang berkerumun di sana. Berharap mereka bisa merasakan sakit yang kurasa.
Duniaku gelap dan suram. Air mataku kering sudah. Aku benar-benar ingin menyusul mereka ke surga.
Tadinya, aku berniat mengikat leherku dengan selendang atau kawat berduri. Atau aku ingin dilindas traktor berisi beban jutaan kilo.
Laila menjadi gadis yang pendendam terlebih pada bapaknya. Bapaknya yang telah meninggalkan keluarganya dengan menceraikan ibunya disaat sakit demi wanita lain, gila harta dan gila homat, semua iulah yang menjadi penyebab atas semua kejadian yang menimpanya, sperti terjerumunya ia kedalam pekerjaan hina, kematian ibu dan kakaknya. Tidak hanya itu perbuatan curang sang bapak bersama pengacara sahabatnya yaitu dengan memanipulasi harta gono-gini membuat Laila dan keluarganya tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah rumah yang kini telah dijualnya membuat bekas luka di hati Laila.
Kuingat lagi kenangan hidupku bersama ibu dan Mbak Ning. Dulu kami sangat bahagia. Kurunut lagi di mana letak kesalahan itu. Bapak. Ambisinya akan kehormatan, uang, dan wanitalah penyebab semua ini. Aku mengutuk bapak. Gara-gara bapak aku terjerumus ke lembah hitam. Andai sekarang bapak datang padaku, memohon ampun sekalipun, aku tak sudi memaafkannya. Harga kehilanganku pada ibu dan Mbak Ning terlalu mahal untuk ditukar kata maaf.
Walaupun Laila sempat melakukan perbuatan yang tidak halal dan dibenci Tuhan, akan tetapi Laila bukanlah orang yang lupa akan Tuhan yang menciptakannya. Ia ingat akan Tuhan yang menciptakannya dan yang telah mengatur jalan hidupnya. Ketika Laila bersedih ia akan menangis dan bermunajat kepada Tuhannya meskipun ia merasa tidak pantas dan tidak layak lagi untuk mengingat Tuhannya dengan keadaannya yang telah seperti ini.
Aku adalah pelacur. Namun di saat-saat kritis itu, toh aku masih mengingat nama-Nya. Dalam sedih, aku berdialog dengannya. Kadang, aku menangis menceritakan nasibku pada-Nya. Aku memang pelacur tak tahu malu, karena masih mengingat Tuhanku.
Banyak sekali cobaan yang menimpa Laila mulai dari kepergian bapaknya, keadaan ibu yang sakit-sakitan yang membuatnya terpaksa terjerumus ke lembah kenistaan, kematian kakaknya dan disusul kematian ibunya, namun Laila dapat dikatakan orang yang cukup tegar karena ia mampu terus menjalani hidupnya yang telah berantakan tanpa keluarga yang dikasihi. Kehadiran sosok Rahadian seorang laki-laki yang mencintainya pun mungkin menjadi salah satu factor keinginan Laila untuk terus melanjutkan hidup yaitu dengan menikah bersama Rahadian hingga pada akhirnya memiliki seorang anak.
Berkenaan dengan konsep sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Renne Wellek dan Austin Warren, yaitu ; pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi masyarakat; seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Dalam hal ini pengarang bermaksud mengingatkan dan mengajak kepada para pembaca melalui tokoh Laila dalam karyanya. Laila yang dalam cerita masih muda berusaha sebisa mungkin mencari uang untuk keluarganya khususnya pengobatan ibunya hingga ia merelakan harga dirinya yang mahal. Lain dengan kita sebagai anak muda yang dengan mudahnya meminta segala sesuatu kepada orang tua dan menghamburkan uang dengan bersenang- senang tanpa memikirkan sisi lain yang terjadi disekitar kita, betapa sulitnya mereka berusaha demi sedikit hasil saja. Akan tetapi perlu diingat, disini penulis bukan bermaksud agar pembaca meniru perbuatan Laila menjadi seorang seorang penghibur, melainkan menunjukkan kepada pembaca betapa sulit perjalanan yang mereka hadapi dan menjadi seruan kepada kita bagaimana mengatasi masalah ini.



SIMPULAN
 Banyaknya Wanita Pekerja Seks Komersial, seiring dengan krisis moral yaitu ambrolnya moral masyarakat Indonesia serta akibat faktor-faktor yang menjadi permasalahan yang tidak asing di Negara kita digambarkan dalam cerpen “Laila: Tarian Pengorbanan” karya Zeventina Octaviani. Hal ini tergambar dari sosok seorang Laila gadis yang terpaksa terjerumus menjadi seorang Pekerja Seks Komersial akibat desakan keadaan ekonomi serta kebutuhannya mencari uang demi pengobatan ibu tercinta yang sakit parah. Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana kepedihan hidup Laila hingga mengorbankan harga dirinya, jeritan batin untuk kembali ke jalan yang benar. Hingga keadaan dimana ia ditinggalkan keluarga yang dicintainya. Apa yang dialami Laila merupakan beban yang berat yang tak pernah terbayangkan oleh banyak orang, namun sosok Laila dalam cerpen ini hanya salah satu contoh dari kehidupan atu Laila saja karena di luar sana masih banyak Laila-Laila yang lain yang mengalami hal sama namun tidak berdaya.

Minggu, 09 Januari 2011

HILANG...

 oleh. Meida Taftiawati


Dalam gelap aku terlelap
Dalam ragu aku mengadu
Dalam senyap aku berharap

Dibawa rindu melayang angan terbang
Tak jadi indah semua yang terbayang
Hanya bisikan angin dan usapan debu

Semua hilang menjadi arang
putih, lagi merah….dan hitam
mencabik apa-apa yang merasa

kian masa menjadi senyap  senyap senyap

hilang ….

dan akan hilang…


(sabtu, 12 Desember 2009)

Charlie Cari Cinta

Oleh Meida Taftiawati
 

Nama aye “Ucup Roja’i”. Dari namenye dan cara aye ngomong pasti orang-orang pada tau kalo aye anak betawi asli tapi inget…aye bukan Si Doel! Di sekolah aye biasa dipanggil “Charlie” keren kan?! Kate temen-temen sih aye dipanggil Charlie soalnye muka aye nyentrik kayak Charlie vokalis grup band terkenal “ST 12”. Tapi aye sendiri kagak tau si Charlie ntu yang mane, tapi yang pasti ganteng dong kayak aye, paling kagak kayak “Pasha Ungu” ato mungkin “Ariel Peter Pan”! Nah sebenernya yang pertama kali manggil aye charlie ntu Ami Cewek paling cantik se-sekolah.
 Kate orang-orang se-kampung, aye ntu anak babeh yang paling ganteng soalnye aye emang anak laki-laki satu-satunye, adik Aye cewek semue. Sebagai seorang abang yang baik, aye punya tanggung jawab tiap hari buat nganterin adik aye si Rohaye ke Sekolahnye tentu aje sama motor vesva kesayangan aye si “Harley”. Ngomong-ngomong soal si “Harley” biar vesva-vesva begini tapi liat sejarahnye…si “Harley” ini udeh pernah bonceng berbagai kalangan orang, mulai dari kakek-nenek, mpok-mpok, sampe ibu-ibu yang lagi hamil mau berojol aje pernah naik ini vesva! Tapi satu yang belum pernah nyobain vesva aye….cewek cantik montok bahenol nerkom semok kayak “Ami” cewek populer di sekolah aye. Kapan ye aye bisa bonceng pacar sendiri yang cantik kayak Ami…? Beuh…kayaknye cumi alias cuma mimpi. Jangankan sama Ami ma si Lela yang begitu aje kagak bisa apalagi sama Ami…
****

 Seperti biasanye, tiap pulang sekoleh aye, ame kedua temen aye si Ipey ame si Upus diem ditempat Parkir sambil cuci mata liat cewek-cewek cantik lewat. Sesekali aye ame kedua temen aye yang rade sinting ntu suit-suit centil kalo ada cewek lewat. Semua cewek kite suit-suitin kecuali si Lela cewek ternorak se-antero sekolah. Kalo si Lela disuit-suitin bisa-bisa dia gede rasa terus suka same aye…duh kagak banget deh!
 “Sstt…..!” Ipey mendesis “Si cantik lewat tuh!” tambah Ipey sambil menunujuk seorang cewek yang aye kenal betul ya… siape lagi sih kalo bukan si Ami.
 “Ehem…ehem…!” Upus mendehem.
 “Hai Ami…!” sapa aye ngarep.
 “Hai…” jawab Ami ramah sambil berjalan pergi.
 “Liat coy….aye tanya, langsung dia jawab! Emang aye ganteng kali ye…” aye pede.
 “Ah tu mah kasian aja liat lo kalo sampe dicuekin” ceplos Upus.
 “Tega lu…ma temen sendiri” aye protes. “Eh fren…cariin aye pacar donk!”
 “oh…jadi ceritanya Charlie cari cinta nih…?” Ledek Ipey.
 “Wah…C-C-C donk?!” tanggap Upus.
 “Apaan tuh?”aye kagak ngerti.
 “C-C-C alias Charlie cari cinta!!!!” Upus ngakak.
 “Aye serius nih! Charlie ganteng lagi cari cinte. Aye pengen ada cewek cantik yang naik si Harley jangan nyak-nyak mulu!”
 “Habis motor lo pantesnya mang ditaikin nyak-nyak sesuai dengan motor lu yang butut bukan ditumpangin si Ami cantik!” ledek Ipey kejam.
 “Bener lu pade tega semua kagak ade yang mau bantu!” aye sedikit kesel.
 “Yey…si Charlie marah…tenang donk pasti kita bantu, kita kan Pren!” ungkap Upus buat aye lega.
 “Bener ye lu pade…” aye nyoba ngeyakinin diri. “Pey, Pus, kite pulang nyok…!”ajak aye karena aye pulang sekolah harus nganterin nyak ke pasar beli bakal jualan gado-gado besok.
 “Ya udah yuk!” Jawab Ipey ame Upus kompakan.

****

 Pagi ini aye jalan ke sekolah dengan penampilan aye yang baru, sesuai ame ide dari temen-temen aye supaye Ami tambah welcome gitu ama aye. Rambut gondrong walau emang sedikit mirip grandong aye cet warna merah sesuai dengan si Harley vesva Aye. Aye tenteng jaket baru aye yang kate Upus sih Jaket yang dipake Charlie asli waktu manggung tahun baruan. Sepatu yang aye pake juga laen dari pade biasenye. Sepatu kulit item mengkilap kayak muka si Ipey ni aye dapet dari peninggalan babeh waktu masih jadi ABG. Satu lagi kagak ketinggalan rante yang ngegantung dicelana aye mungkin buat aye tambah keren walau kagak ada orang yang tau kalo ni rante dapet nyolong dari kandang anjing tetangge dan perlu ekstra berani ngadepin si dogy ganas!
 Semue orang yang liat pasti mrem melek, bengong mangap, mungkin liat aye yang tambah keren kayak seleb. Aye berenti buat ngaca di jendela salah satu kelas dan tiba-tiba juga aye ngerasa ni keren ato justru aneh ye? Bukannya kayak seleb, tapi malah kayak orang-orangan sawah? Aye terus ngaca sambil rapihin rambut grandong eh…!gondrong aye.
 “Pagi Charlie…!” sapa orang-orang lewat dan aye cuma nyengir kude.
 “Pagi Charlie ganteng….!” Sapa Ipey ame Upus barengan.
 “Eh aye aneh ye?” tanye aye ngeyakinin.
 “Kagak. Lu ganteng deh!” jawab Upus.
 “Yang bener?!” tanye aye masih kagak percaya.
 “Ho-oh” tambah Ipey.
 “Syukur deh…gue jadi pede lagi.”
 “Harus dong. Inget Ami…” Ipey ngingetin aye cuma angguk-angguk. Lalu kagak lama tuan putri aye lewat deh!akhirnya…
 “Pagi Ami…” sapa Aye pasang muke manis ye meski malah tambah sepet.
 “Pagi…”jawab Ami sambil seperti menahan tawa.
 “Gimana aye keren kagak?” tanya aye pede. Ami malah tertawa bikin muke cantiknye tambah cantik lagi. “Loh…malah ketawa? Keren kagak?”
 “hmm…keren-keren…” jawabnya senyam-senyum. Mungkin Ami tanbah tertarik ame aye. “gue ke kelas ya!” pamitnya selalu ramah.
 “Yo…hati-hati ya!” jawab aye dan Ami berjalan berlainan arah. Tapi tiba-tiba…
 “Charlie…!” panggil Ami. Wah Ami balik lagi ade ape ye?! Jangan-jangan Ami mau ngajak pacaran!!!
 “Iye ape Mi?” tanye aye so kalem
 “Boleh jujur gak?” tanya Ami. Beuh…jujur ape ye? Jangan-jangan dia jujur kalo dia suka ame aye! “Sebenernya kamu tuh jadi tambah aneh. Aneh banget! Bikin orang-orang ketawa!” Ami ketawa lepas, kemudian kembali menjauh bikin aye ciut dan pastinye bener-bener malu. Ni gare-gare si Ipey ame si Upus nih! Dasar biang kerok!!!!

****

 Matahari cerah banget pas buat hari tamasya ke taman yang penuh ame pohon dan rerumputan. Itu juge alasannye hari ini aye ajak Ami maen ke taman yang dari dulu aye rencanain bakal aye ajak Ami kalo jadi pacarnye. Akhirnye kesampean juge. Buat pergi ke taman ini si Ami aye bonceng pake si Harley kebanggaan aye. Sekarang sejarah tercatat kalo bukan cuma emak-emak aje yang yang pernah numpang di vesva aye tapi juga Ami cewek montok bahenol nerkom semok yang sekarang jadi pacar aye.
 Aye duduk di kursi taman tanpe aye tau Ami yang tadi duduk di sebelah aye sekarang kemane. Tapi kagak lama aye denger suara Ami manggil-manggil mesra sambil ngumpet di belakang pohon percis kayak film-film India favorit aye. Terus dia lari-lari sambil nyanyi kagak ketinggalan ame goyang India juga! Wah aye demen nih! Aye juga ikutan nyanyi-nyanyi sambil lari-lari ngejar Ami si sayang. Sesekali dia ngumpet di pohon sambil manggil name aye.
 “Charlie….Charlie…” panggilnya
 “Iye sayang abang disini. Tunggu abang dong jangan lari-lari lagi cape…”
 “Ucup….Ucup…!”Panggilannya lain.
 “Kok Ucup sih sayang?” tanye aye berhenti berlari.
 “UCUP…….!!!!!!!”teriaknye “BELETAK!” aye kejedot pohon duren. Dan akhirnye aye baru sadar kalo yang tadi semua cuma mimpi. Aye bukan kejedot pohon duren tapi dilempar penghapus bor dan yang manggil-manggil bukan Ami tapi Bu Mia guru bahasa Indonesia Aye. Nasib…nasib bukannye dapet cinte Ami malah dapet Penghapus bor di jidat gara-gara ketiduran di kelas.

****

Akhirnya bel pulang bunyi. Aye cepet-cepet ngacir abisnya bisa-bisa kalo orang-orang pada ngeliat penampilan aye, bisa diledek abis-abisan. Tapi tiba-tiba baju aye ditarik.
“Eh Charlie, lo kenapa tadi di kelas? Mimip ya lo? Mimpi apa kok senyum-senyum lo waktu merem?” tanya Ipey.
“Hayo lho…lo mimpi jorok ya?!” usil Upus.
“Hus! Sembarangan lu kalo ngomong. Aye mimipi india-indiaan ame Ami!”
“Dasar maniak India lo!” ledek Upus.
“Lu pade tanggung jawab dong…gara-gara rambut aye kayak aromanis Ami bukan bilang manis tapi bilang aye aneh!” aye kesel.
“sorry friend..gue pikir gak bakal gini” sesal Ipey ame Upus. Tapi aye kagak peduliin mereka yang aye peduliin justru cowok yang cupika-cupiki ame Ami Cinte aye dah gitu sayang-sayangan juge cinte-cintean.
“Aduh nyak…aye patah hati….!!!”
“Udah deh lu Cari cinta lain aja yang lebih possible…” tambah Ipey bikin hati aye tambah ancur curr curr......


_Selesai_